Mengantar Kepulangan Alm Syamsuddin “Olleng” Rajab

Wah, ini kali saya tak bungkam lagi. Pernyataannya mesti ditepis. “Jika saya ditanya, siapakah adikmu seorang aktifis yang paling kurang ajar sama kamu sebagai seniornya, maka namamulah kusebut diurutan teratas”, kata saya sedikit serius. Tapi, Dek Olleng malah tertawa terpingkal-pingkal. Dan khasnya, adik satu ini jika terbahak keras, airmatanya ikut meleleh.

Setelah meninggalkan kursi DPRD Sulsel, tak sesering lagi saya memijak kaki di Jakarta. Pun tak lagi sesering bersua, mengopi, begadang, juga berdiskusi dengan Dek Olleng. Sekian kali, gurat wajahnya melintas di benak saya. Merindukan, tak hanya pada beragam gagasan dan argemennya, tapi lebih dari itu. Pada gurau “kenakalannya” pada saya selaku seniornya.

Meskipun itu, “kenakalannya” tak dipahami banyak orang. Berdua, kami sesama alumnus pesantren, seringkali bercanda melalui bahasa Arab. Sekalipun itu, Arab “prokem”.

Sepekan lalu, gambarnya melintas di satu group WhatsApp. Badannya menipis, tengah berbaring dalam perawatan. Memilukan, sakit apa dia? tanya saya pada sekian karibnya di Jakarta. Dan siang ini, gambarnya melintas lagi. Allahu Akbar, jazadnya telah membujur kaku. Inna-lillahi wa-inna Ilahi rojiun!.

Selamat jalan adikku. Dirimu lebih awal berpulang. Semoga gagasan kritismu, artikel-artikelmu, buku-bukumu, kau tinggalkan di muka bumi, mewujud “ilmin la-yuntafa’u bihi”. Ilmu yang bermanfaat, mengiringi amal jariyahmu di alam sana.

Amin! Al Fatihah…!

Faisal-Phinisi, 21 Mei 2023