Pemberdayaan Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim pada Fase Baru

“Mari kita menyesuaikan diri, untuk tidak menyerah terhadap keruwetan zaman sekarang. Kita bangkitkan kiat-kiat untuk keluar dari suasana VUCA ini, dengan adaptasi fase (normal) baru di tingkat akar rumput,” ujar Sarwono.

Selanjutnya, Senior Advisor Yayasan Kehati, Diah Suradiredja menyampaikan bagaimana konteks normal baru di era post-pandemi ini, berkaitan dengan generasi muda.

Diah juga menjelaskan upaya pelibatan generasi muda dalam konteks keanekaragaman hayati supaya lestari, dan bisa mendukung pembangunan berkelanjutan, melalui Biodiversity Warriors.

Yayasan Kehati menginisiasi Biodiversity Warriors, gerakan anak muda yang bertujuan memopulerkan keanekaragaman hayati Indonesia dari segi keunikan, pelestarian, pemanfaatan secara berkelanjutan, baik melalui aksi nyata maupun dunia maya.

“Biodiversity Warriors telah menjadi sebuah gerakan pemberdayaan kaum muda menuju adaptasi fase baru. Pemikiran, karya, dan aksi mereka di lapangan telah memberikan pembelajaran dan keyakinan bahwa Indonesia dapat mencapai FoLU Net Sink 2030,” katanya.

Forum webinar ini juga memberikan porsi kepada dunia usaha dan korporasi dalam mempresentasikan program kerja dan kebijakannya. Dari unsur korporasi disampaikan oleh Ardi Nugroho, Kabid Pengembangan
Teknologi Kelistrikan PT. PEMBANGKITAN JAWA BALI, yang mengetengahkan materi “Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Dalam Upaya Transisi Energi Bersih (Energy Transition Mechanism)”. Sementara dari dunia usaha disampaikan oleh Fitrawan Yusran–Environment and Sustainability Development SAMPOERNA KAYOE dengan tema “Pemberdayaan Perubahan Iklim Terpadu: Pengelolaan Hutan Lestari & Hutan Rakyat”.