Penulis (Adham)
KORANMAKASSAR.COM — Di dunia yang serba cepat saat ini, di mana batasan antara fiksi ilmiah dan kenyataan semakin kabur seiring berjalannya waktu, kebangkitan teknologi kecerdasan buatan (AI) menghadirkan kemungkinan-kemungkinan menakjubkan sekaligus tantangan-tantangan yang menakutkan. Ketika sistem AI semakin terintegrasi ke dalam kehidupan kita sehari-hari, mulai dari asisten virtual dan algoritma prediktif hingga kendaraan otonom dan perangkat pintar, pertanyaan tentang bagaimana tetap waras di tengah pergolakan teknologi ini semakin besar.
Meskipun daya tarik dari potensi AI tidak dapat disangkal, begitu pula risikonya terhadap kesejahteraan mental dan kesadaran diri kita di dunia yang semakin digital.
Inti dari tantangan ini adalah perlunya mencapai keseimbangan antara memanfaatkan teknologi AI dan melestarikan kemanusiaan kita. Di satu sisi, AI mempunyai potensi untuk merevolusi industri, menyederhanakan proses, dan meningkatkan efisiensi dengan cara yang tidak terbayangkan sebelumnya.
Mulai dari layanan kesehatan dan keuangan hingga transportasi dan hiburan, penerapan AI sangat luas dan beragam, sehingga menjanjikan peningkatan kehidupan kita secara signifikan. Namun, di tengah gelombang inovasi ini, terdapat perasaan tidak nyaman yang nyata, ketika kita bergulat dengan implikasi etis dari penyerahan kendali kepada mesin cerdas dan ketakutan akan dianggap ketinggalan zaman dalam menghadapi otomatisasi.
Dalam menavigasi lanskap yang kompleks ini, menumbuhkan kesadaran dan kesengajaan adalah hal yang terpenting. Daripada membiarkan diri kita terhanyut dalam pusaran kemajuan teknologi, kita harus mengambil langkah-langkah yang disengaja untuk memastikan bahwa interaksi kita dengan AI dipandu oleh nilai-nilai empati, etika, dan martabat manusia.
Ini berarti pendekatan AI bukan sebagai pengganti kecerdasan manusia, namun sebagai alat untuk meningkatkan kemampuan kita dan meningkatkan pemahaman kita tentang dunia di sekitar kita. Dengan memupuk pola pikir rasa ingin tahu dan penyelidikan kritis, kita dapat memanfaatkan kekuatan AI untuk mengatasi tantangan sosial yang mendesak sekaligus memitigasi potensi risiko terhadap kesejahteraan mental kita.
Selain itu, menumbuhkan rasa keagenan dan pemberdayaan dalam hubungan kita dengan AI sangat penting dalam menjaga kewarasan kita di tengah gencarnya kemajuan teknologi. Daripada secara pasif menerima perintah algoritma dan sistem berbasis AI, kita harus secara aktif terlibat dengan teknologi ini, mempertanyakan asumsi, bias, dan implikasinya terhadap kehidupan kita.
Hal ini memerlukan pengembangan keterampilan literasi digital dan advokasi transparansi dan akuntabilitas dalam pengembangan dan penerapan sistem AI. Dengan berpartisipasi aktif dalam pembentukan kebijakan dan praktik AI, kita dapat memastikan bahwa teknologi ini dirancang dan digunakan dengan cara yang memprioritaskan kesejahteraan dan otonomi individu.
Pada akhirnya, untuk tetap waras dalam serangan teknologi kecerdasan buatan memerlukan pendekatan holistik yang mencakup kesadaran individu, dialog masyarakat, dan kepemimpinan etis. Dengan memanfaatkan AI dengan kesengajaan dan pandangan jauh ke depan, kita dapat memanfaatkan potensi transformatifnya sekaligus menjaga kesehatan mental dan menjaga kemanusiaan kita di dunia yang semakin digital.
Dengan melakukan hal ini, kami tidak hanya merencanakan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan namun juga menegaskan kembali komitmen kami terhadap dunia di mana teknologi berfungsi sebagai alat untuk kemajuan umat manusia dan bukan sebagai sumber kecemasan dan keterasingan.

