Penemuan minyak di Telaga Tunggal di Indonesia berjarak 26 tahun dari penemuan sumur minyak pertama di dunia di Titusville, Negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat pada 27 Agustus 1859 yang diprakarsai oleh Edwin L. Drake dan William Smith dari Seneca Oil Company.
Nama Aeliko Janszoon Zijlker pun tercatat dalam Sejarah Pertambangan dan Industri Perminyakan Indonesia, sebagai penemu sumur minyak pertama dalam sejarah perminyakan di Indonesia. Telaga Tunggal I itu sendiri akhirnya akhirnya berhenti operasi pada tahun 1934. Ketika ditinggalkan pada tahun 1934, jutaan barel minyak sudah berhasil dikeluarkan dari bumi Langkat melalui Sumur Telaga Tunggal. Beberapa sumur lainnya juga ditemukan di sekitar areal Telaga Tunggal I, namun juga sudah ditinggalkan sejak lama.
***
Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lapan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, sekitar 110 km barat laut Medan, Ibu Kota Sumatera Utara. Untuk mencapai sumur minyak Telaga Tunggal ini, dari pusat kota Pangkalan Brandan berjarak sekitar 24 kilometer arah barat menuju Aceh timur.
Untuk sampai ke lokasi melewati jalan bergelombang tanpa aspal dan melalaui perkebunan karet dan sawit. Jalanan sepi, tak banyak kendaran atauj masyarakat yang lalu lalang kecuali kendaraan yang mengangkut hasil karet dan sawit.
Sebelum sampaik ke lokasi, kitaakan melewati sebuah tugu peringatan 100 tahun perminyakan Indonesia. Tugu setingi dua meter dengan balutan marmer hitam terdapat tulisan “Telaga Tunggal 1885-1985”. Tugu ini diresmikan pada 4 Oktober 1985 oleh Ir Suyetno Patmokismo, Pimpinan Umum Daerah Pertamina Sumatera Bagian Utara.
baca juga : 14 Juni 1913 : Pemerintah Hindia Belanda Membentuk Jawatan Purbakala
Tugu ini menandakan menuju lokasi tidak lama lagi. Tetapi tantangan perjalanan masih cukup tinggi. Setelah sekitar 30 menit, melewati jalanan berliku, tanpa aspal dan berdebu, sebuah plang putih informasi tertulis, “Di sini telah dibor sumur penghasil pertama di Indonesia. Nama Sumur Telaga Tunggal. Ditajak 15 Juni 1885. Kedalaman 121 meter. Hasil minyak 180 barrel perhari dari lima lapisan batu pasir dengan formasi baong. Lapangan ditinggalkan tahun 1934.”
Tak jauh dari plang putih yang dihimpit pohon sawit, sebuah kepala sumur berada. Inilah sumur minyak Telaga Tunggal. Sumur bersejarah ini berada dan dikelilingi pohon-pohon sawit. Rembesan dan tetesan minyak sesekali keluar.
Tak jauh dari sumur Telaga Tunggal, diantara pohon-pohon sawit yang berusia uzur, ratusan penambang tradisional mencoba peruintungan menambang minyak bumi, pada kedalaman tak lebih dari 100 meter.
Telaga Tunggal sepertinya sepi perhatian, padahal sejarah perminyakan di Indonesia dimulai dari sini. Telaga Tunggal harusnya bisa menjadi wisata edukasi tentang jejak minyak bumi di Nusantara. []
sumber : wikipedia, http://portalindonesianews.com/

