Ketiga, lebih jauh lagi, mereka yang IQnya rendah lebih rawan dengan kekerasan dan kriminalitas. Kesulitan ekonomi dan wawasan terbatas, membuat mereka seperti rumput kering yang mudah dibakar oleh kekerasan dan kriminalitas.
Bagaimana cara meningkatkan kecerdasan intelektual (IQ)? Ketahui dulu penyebabnya.
Salah satunya, itu disebabkan oleh kurangnya gizi anak-anak. Juga disebabkan oleh kurangnya gizi ketika ibu sedang hamil. Sejak awal otak mereka kurang asupan gizi untuk menumbuhkan otak cerdas.
Stunting, atau kurangnya gizi di Indonesia tergolong minta ampun parahnya. Dari data mutakir, stunting di Indonesia terburuk nomor lima di dunia.
Meningkatkan gizi anak-anak, menambah gizi Ibu yang hamil, itu menjadi salah satu program yang harus dibuat masif dan sistematis, siapapun presiden Indonesia kelak.
Pendidilkan perlu pula secara sengaja, terstruktur dan masif, seluas-luasnya digerakkan dengan dana raksasa untuk menjangkau populasi Indonesia. Dan pendidikan itu perlu disalurkan sejak mereka masih usia anak-anak.
baca juga : Denny JA: Video Palsu Jokowi dan Peran Artificial Intelligence di Pilpres 2024
Di teritori manapun, terutama yang di pelosok, mereka harus semakin “dipaksa” mengecap pendidikan setinggi yang bisa.
Penting juga membuat kebijakan pemerintah yang menyerap sebanyak mungkin tenaga kerja. Jika mereka bekerja dengan tantangan kerja yang meningkat, itu juga bisa menjadi simulasi untuk ikut mencerdaskan.
Para capres yang kini bertarung, kita tunggu programnya untuk ikut meningkatkan IQ rata-rata Indonesia. Sehebat apapun leadership seorang presiden, negara akan sulit melompat jika kecerdasan intelektual kolektif di negara itu di bawah rata- rata.*

